TOTIPOTENSI, MONOKOTIL, TITIK TUMBUH, BUNGA, ANAKAN TERKAIT KULTUR JARINGAN KURMA

By 4:50 PM

Oleh
Ir. Edhi Sandra MSi
Ir Hapsiati
Azizah Zahra S Hut
Pendahuluan
Setaip tumbuhan secara genetik mempunyai sifat “Totipotensi”, yaitu setiap sel dari suatu tumbuhan mengandung rangkaian gen yang lengkap, sehingga satu sel cukup untuk membentuk tumbuhan yang baru. Mengacu pada hal tersebut maka secara teoritis ilmiah maka setiap sel dari suatu tumbuhan seharusnya bisa dikulturkan.
Bahan eksplan yang paling mudah untuk dikulturkan adalah titik tumbuh, atau mata tunas. Pada tumbuhan monokotil, dalam hal ini kurma maka titik tumbuh hanya ada satu yaitu titik tumbuh apikal. Bila tunas apikal tersebut diambil sebagai bahan eksplan maka akan matilah tumbuhan tersebut. Padahal peluang keberhasilan di dalam menginisiasi adalah kisaran 0 – 10%. Jadi kalau kita ambil tunas apikal dari tanaman kurma dan diinisiasi maka peluang keberhasilan kalau hanya satu eksplan maka peluang adalah nol alias gagal, padahal harga tanaman sangat mahal. Bibit kultur jaringan kurma dari luar negeri harga kisaran sekitar Rp. 400.000.
Kenapa Titik Tumbuh
Titik tumbuh adalah primordial dari organ. Oleh sebab itulah maka titik tumbuh lebih mudah di rangsang untuk menumbuhkan organ, apakah tunas, akar ataupun bunga. Oleh sebab itulah maka bahan eksplan titik tumbuh menjadi prioritas di dalam penggunaan bahan eskplan. Dengan hanya memberikan formula hormone sitokinin yang optimal maka sudah cukup untuk menstimulir tumbuhnya tunas-tunas baru. Masalahnya adalah bahwa pada tanaman kurma mata tunas atau titik tumbuh hanya satu yaitu tunas apikal saja, sehingga tidak mungkin diambil sebagai bahan eksplan karena pasti tanamannya akan mati bila diambil mata tunas apikalnya. Disisi lain peluang keberhasilan di dalam inisiasi sangat kecil sehingga keberhasilan inisiasi titik tumbuh apikal juga sangat kecil, dan bila kemudian tanamannya mati maka hal ini sangat merugikan.
Bahan Eksplan Berupa Jaringan Tanaman
Sebenarnya dalam mengkulturkan tanaman kurma bisa dilakukan dengan menggunakan bahan eksplan berasal dari sel yang masih muda, sel yang belum mengalami penebalan dinding sel sehingga mudah membelah dan bermultiplikasi. Pada tanaman kurma sebenarnya bisa digunakan sel/jaringan akar muda, sel/jaringan tangkai daun muda, tangkai bunga muda. Masalahnya bahwa keberhasilan dengan menggunakan bahan eksplan seperti ini memerlukan tahapan yang cukup panjang, yaitu tahapan inisiasi, tahapan pembentukan kalus, tahapan pembentukan embrio somatik, tahapan pembentukan tunas, tahapan pembesaran tunas, tahapan perakaran dan aklimatisasi dan setiap tahapannya bukannya mudah tapi membutuhkan ujicoba.
Kurma Tanaman Monokotil
Karakteristik tanaman kurma sebagai tanaman monokotil, merupakan permasalahan dalam mendapatkan titik tumbuh sebagai bahan eksplan, akrena pada tanaman monokotil titik tumbuh apical saja yang bisa digunakan sebagai bahan eksplan dengan status bahan eksplan titik tumbuh (primordial organ) sehingga lebih mudah untuk ditumbuhkan dalam kultur jaringan.
Oleh sebab itulah maka strategi untuk mendapatkan titik tumbuh maka dengan pendekatan (dugaan bahwa titik tumbuh bunga dan titik tumbuh sunu/ anakan) dapat di usahakan untuk dapat distimulir sehingga dapat digunakan sebagai bahan eksplan atau sebagai stratgei perbanyakan tunas.
Titik Tumbuh Bunga
Titik tumbuh bunga pada tanaman kurma terletak pada titik tumbuh lateral, yaitu diketiak daun. Berarti bahwa di ketiak daun ada titik tumbuh yang dapat digunakan untuk tumbuhnya bunga, berarti secara teoritis ilmiah seharusnya titik tumbuh tersebut juga berpeluang/ berpotensi untuk dapat menumbuhkan tunas ataupun akar. Fenomena yang menarik adalah bahwa titik tumbuh lateral/ ketiak daun tidak pernah memunculkan tunas / pucuk tanaman, tapi untuk tumbuhnya bunga pada saat tanaman sudah sampai pada fase dewasa bisa tumbuh bunga. Dugaan bahwa titik tumbuh lateral ini secara teoritis ilmiah seharusnya juga dapat diberi perlakuan agar dapat tumbuh tunas. Hal inilah yang sedang dilakukan oleh Esha Flora dengan memberikan formula hormonal sitokinin (misalnya menggabungkan BAP, TDZ, 2 ip dan kinetin yang saling sinergi dengan kekuatan yang sangat tinggi (kekuatan yang sangat tinggi berdasar banyak kasus adalah dikisaran 80 -200 ppm) dan diberikan secara intensif ( misalnya 10 – 20 ml disetiap ketiak daunnya diberikan setiap hari pagi dan sore selama 10 hari) langsung pada titik tumbuh lateral. Formula gabungan yang sangat tinggi tersebut akan memaksa tanaman untuk merubah karakter morfologi, biologhis dan fisiolohisnya, tapi formula tersebut masih dalam taraf tidak merubah genetiknya.
Sunu / Anakan
Pada individu tanaman kurma hasil kultur jaringan seringkali ada yang menghasilkan anakan (sunu). Karakter menghasilkan anakan terbawa sifatnya dari dalam kultur jaringan yang biasa di stimuli dengan formula hormone tunas yang tinggi sehingga tanaman kurma menghasilkan sunu/. Anakan. Sifat mudah menghasilkan anakan pada tanaman kurma juga dapat dibuat dan distimulir dengan memberikan fornmula hormone seperti di atas, hanya diberikan perlakuannya pada pangkal batang tanaman kurma, apalagi bila sudah ada sununya maka akan lebih mudah untuk menstimulir tumbuhnya sunu baru.
Bila dugaan ini benar maka perbanyakan tanaman kurma dapat dilakukan dengan cara perbanyakan anakan yang distimulir tersebut
Permasalahan Tumbuhnya Tunas pada Tanaman Kurma
Karakter monokotil dan pertumbuhan tanaman kurma yang memang lambat diduga juga lamabta dalam merspon pengaruh hormonal yang diberikan. Seringkali kita tidak sabaran dalam memebrikan perlakuan hormone, setelah diberi perlakuan kita setiap hari mengamati untuk melihat ada atau tidaknya pertumbuhan tunas baru. Padahal sampai tumbuhnya tunas baru yang dapat terlihat oleh mata fisual, sebenarnya itu terjadi setelah tunas tersebut menumbujkan riguan bgakan jutaan sel. Jadi maksudnya kita harus bersabar setelah memberikan perlakuan hormone kemungkinan pengaruh pertunasan akan tumbuh setelah sebulan atau dua bulan berikutnya karena pengaruh hormone tersebut sebenarnya pada level sel sudah berpengaruh dan sel maupun jaringan sudah merespon tapi karena ukuran sel yang sangat kecil tidak terlihat oleh mata maka harus menunggu sampai tunas dapat terlihat oleh mata dan itu membutuhkan waktu.
Menstimulir Pembungaan Tanaman Kurma
Mempercepat pembungaan tanaman kurma. Berarti kita harus mempercepat proses pendewasaan tanaman. Tanaman dewasa terkait dengan sifat fisiologis dan biologis sel dan jaringan tanaman. Dan cadangan makanan yang terdapat daklam tanaman juga berpengaruh terhadap proses pembungaan. Tumbuhan dibagi dua fase yaitu fase vegetative dan fase generative. Fase generative akan terjadi bila vase fegetatifnya sudah mulai menurun aktivitasnya sehingga alokasi energy akan digunakan untuk masuk pada fase generatif ditambah dengan dorongan hormone pembungaan yang memadai untuk dapat memicu kearah pembungaan. Oleh sebab itulah maka pemberian perlakuan hormone pembungaan dengan konsentrasi dan kekuatan yang tinggi diduga mampu membuat tanaman “terpaksa masuk ke fase pembungaan”. Formula pembungaan dengan kekuatan dan konsentrasi tinggi dapat menggunakan gabungan hormone giberelin yang saling sinergi (gabungan GA3 dan GA4-7 dengan konsentrasi masing masing sekitar 80 -200 ppm), diberikan disekitar ketiak pangkal daun disekitar pucuk diberikan setiap hari pagi sore selama 10 hari dengan dosis sekitar 100 ml setiap perlakuan penyemprotan.
Penutup
Bila tanaman kurma sudah dapat berbunga atau bertunas maka hal ini juga dapat digunakan sebagai bahan eksplan untuk kultur kurma sehingga bahan eksplan yang digunakan dapat lebih banyaksehingga peluang keberhasilan menjadi lebih besar
Bogor, 8 April 2018

You Might Also Like

0 comments