AGRIBISNIS BERBASIS KULTUR JARINGAN SEBAGAI STRATEGI LAUT BIRU

By 2:29 PM





Oleh
Ir. Edhi Sandra MSi
2. Kepala Unit Kultur Jaringan Bagian Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
3. Kepala Laboratorium Bioteknologi Lingkungan PPLH IPB
*) Materi ini disampaikan untuk majalah Pakarti Garuda


Pendahuluan
Bagi pihak yang akan menghadapi pensiun dan belum memiliki kebebasan finansial dan belum memiliki alternative usaha maka hal ini akan menjadi suatu kekhawatiran yang besar. Pertanyaannya bisnis apa yang mampu menghasilkan tambahan finansial, bahkan diharapkan menjadi sumber utama pemasukan finansial setelah pensiun?

Banyak alternative usaha yang bisa dilakukan, masalahnya usaha apa yang cocok untuk diri kita? Sesuai dengan kondisi dan karakter kita, sesuai dengan segala keterbatasan dan kelebihan yang dimiliki.

Dengan melihat kondisi dan karakter pada seorang pensiunan (daya tahan kesehatan menurun, daya tahan fisik menurun, hambatan psikologis: malu, gengsi, bersikap sebagai atasan, pejabat, terbiasa dengan penghasilan besar) maka alternative bisnis tersebut sebaiknya :
1. Agribisnis tersebut tidak terlalu membebankan pada kondisi fisik berat, tapi kalau hanya sebatas memantau, mengelola masih dimungkinkan.
2. Tidak terlalu banyak alokasi waktu di lapang yang dapat menyerap energy yang besar dengan kondisi iklim yang ekstrim seperti belakangan ini.
3. Mampu menghasilkan margin keuntungan yang besar dengan pengelolaan yang tidak terlalu merepotkan.
4. Tidak banyak pesaing yang dapat melakukannya sehingga kita dapat lebih tenang dan lebih banyak waktu untuk terus mengembangkan usaha untuk menjadi yang terbaik di bidangnya.
5. Dalam waktu yang lebih panjang usaha kita masih tetap aman karena tidak banyak pihak dapat masuk dalam usaha tersebut.
Inilah yang sering disebut dengan Startegi Laut Biru adalah suatu strategi bisnis yang bermain di area yang tidak banyak pesaingnya. Kita akan lebih leluasa untuk menangkap peluang dan lebih banyak hasil yang didapat. Lalu pertanyaannya bisnis apa yang berkarakter seperti itu. Oleh sebab itulah maka kami membahas “Agribisnis berbasis Kultur Jaringan sebagai Strategi Laut Biru”.

Agribisnis Berbasis Kultur Jaringan
Dalam era kemajuan ilmu dan pengetahuan, serta tuntutan kebutuhan hidup yang semakin besar maka tuntutan produk dalam jumlah besar sangat diperlukan. Demikian pula dengan produk-produk pertanian, perkebunan dan kehutanan sangat memerlukan ketersediaan bibit dalam jumlah besar, kontinu dan berkualitas. Tidak hanya Indonesia tapi ini merupakan kebutuhan semua negara di dunia. Lalu bagaimana kita dapat menyediakan bibit yang berkualitas dalam jumlah besar secara kontinu tidak terpengaruh musim, maka tidak ada acara lain kecuali dengan kultur jaringan.

Prospek Yang Baik Yang Tidak Dapat Dipungkiri
Prospek yang sangat baik dari agribisnis berbasis kultur jaringan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan dipungkiri. Mau tidak mau maka manusia harus dapat melakukan perbanyakan bibit dengan kultur jaringan. Bila hanya mengharapkan perbanyakan secara konvensional maka tidak akan memadai untuk memenuhi jumlah yang sangat besar tersebut. Prospek tersebut tercermin dalam permintaan kebutuhan benih dan bibit seperti dibawah ini:
1. Kebutuhan benih tanaman sayuran yang hanya dalam waktu singkat sudah panen maka secepat itu pula kebutuhan pengadaan benihnya. Misalnya pengadaan benih paprika, tomat, cabe, terong, strobery, sayuran jepang, bunga krisan, bunga gerbera, anggrek, tumbuhan obat, padi
2. Kebutuhan bibit untuk tanaman perkebunan yang memerlukan bibit dalam jumlah yang sangat besar seperti pisang, kelapa sawit, karet, teh, kopi, lada.
3. Kebutuhan bibit pohon baik untuk keperluan Hutan industri, reboisasi, rehabilitasi. Kebutuhan yang sangat besar karena menyangkut jumlah kawasan hutan yang harus ditanami mencapai jutaan ribu hektar.
4. Kebutuhan jenis-jenis tumbuhan domestik baru yang memerlukan bibit dalam jumlah besar bila ingin diusahakan dalam bentuk industry tanaman, seperti pengembangan usaha tumbuhan obat, pengembangan jenis-jenis eksotik dari luar seperti kurma yang dapat berbuah di daerah tropis, lengkeng merah, Tin, Zaitun, Tulip.
5. Keperluan pemuliaan tanaman memerlukan keterampilan kultur jaringan agar hasil penelitin dapat lebih cepat.
6. Rekayasa genetik dan berbagai kegiatan bioteknologi membutuhkan keterampilan kultur jaringan untuk dapat menumbuhkannya.
7. Mengoleksi berbagai jenis tanaman saat ini sangat rawan kalua harus di tanaam di lapang mengingat adanya global change sehingga tidak menjamin kelangsungan hidup dari tanaman yang di koleksi di lapang. Oleh sebab itulah maka konservasi in vitro merupakan alternative yang sangat tepat.
8. Bibit kultur jaringan dapat dipasarkan lintas negara karena dengan kondisinya yang steril maka permasalahan karantina antar negara akan menjadi lebih mudah.


Penyebab Kultur Jaringan Tidak Berkembang Di Indonesia
Lalu pertanyaannya adalah kenapa tidak banyak orang yang mau melakukan usaha agribisnis berbasis kultur jaringan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Bahwa Indonesia sudah sangat tertinggal dalam hal kultur jaringan, mungkin kita tertinggal 30 tahun dengan negara-negara maju. Walau sebenarnya sumberdaya manusia kita sangat kompeten dalam kultur jaringan hanya terbatas di lingkungan perguruan tinggi, litbang dan perusahaan benih besar.
2. Persepsi negative yang berkembang di Indonesia yang membuat kultur jaringan stagnan dan tidak maju-maju bahkan sangat lambat. Dan kami sudah berusaha secara berlahan-lahan untuk merombak persepsi negative ini. Persepsi negative tersebut adalah: Kultur jaringan sangat sulit dan hanya dapat dikerjakan oleh ahli kultur jaringan, hal ini salah besar. Kultur jaringan memerlukan biaya yang sangat besar karena harus mendatangkan alat-alat import dan bahan-bahan dari luar negeri, hal ini juga salah, karena kita sudah dapat membuat alat sendiri dan kita sudah dapat meramu media buatan sendiri, bahkan laboratorium kultur jaringan dapat dibuat hanya di rumah sederhana yang hanya dikerjakan oleh anak selevel SMP dan SMA yang diberi training terlebih dahulu. Kultur jaringan memerlukan waktu lama dan kualitas tidak pasti, hal ini salah, karena hal ini disebabkan kekeliruan di dalam perencanaan produksi dan perencanaan bisnisnya.
3. Sistem di Indonesia yang sedemikian rupa sehingga tidak ada pihak-pihak yang benar-benar mau mengajarkan pada masyarakat tentang kultur jaringan. Bagi yang sudah bisa maka teknologi ini menjadi andalan utama baginya. Padahal kalau kita banyak yang terjun di kultur jaringan, tetap saja peluang bisnis di Indonesia sangat sangatlah luas, kita dikenal dengan negara Mega biodiversity, terlalu banyak yang dapat dikerjakan untuk menjadi peluang bisnis. Perguruan tinggi dan litbang sibuk dengan penelitiannya, perusahaan benih besar sibuk dengan bisnisnya. Para ahli tersebut tidak akan menyebarkan penemuannya sebelum dipatenkan dan memberikan hasil yang layak menurutnya. Dinas pertanian tidak berani mengambil program kultur jaringan karena akan menjadi taruhan dalam kariernya bila gagal dan akan menyebabkan raport merah bagi reputasi dirinya. Dan kalaupun ada hanya mengerjakan sebatas projek bila sudah terlaksana maka bukan tugas mereka lagi untuk dapat terus berusaha menjalankan dan mengelola laboratorium kultur jaringan tersebut.
4. Salah di dalam menerapkan metode dan teknis pelaksanaan dalam mengelola laboratorium kultur jaringan sehingga tidak mampu mengatasi permasalahan kultur jaringan yang utama yaitu: Kontaminasi, browning, viabilitas dan aklimatisasi. Padahal dengan cara yang benar, metode yang benar, aturan dana tata tertib yang benar maka pengelolaan laboratorium kultur jaringan walau terbatas tetap dapat dilaksanakan walau di rumah yang sangat sederhana sekalipun.

Membumikan Kultur Jaringan
Agar Teknologi kultur jaringan (Tissue Culture) dapat benar-benar secara real dapat dilaksanakan oleh masyarakat luas maka kami Esha Flora berusaha untuk melakukan berbagai hal yang dapat membumikan kultur jaringan yaitu:
1. Esha Flora memodifikasi alat-alat kultur jaringan sehingga dengan standar hasil yang sama dapat dilakukan dengan alat yang murah. Contoh Laminar Air Flow buatan Esco dari luar negeri harganya sekitar 125 juta maka buatan kita dengan menggunakan HEPA dengan standar yang sama 99,999% dalam menyaring mikroba maka harganya hanya sekitar 17,5 juta. Dan itupun bisa digantikan hanya dengan alat yang disebut dengan Enkas yang dapat dibuat sendiri dengan akrilik, kaca, triplek, plastic dan apapun yang penting didapatkan ruang kedap dan dapat kita sterilkan dan digunakan untuk mengkulturkan tanaman.
2. Memodifikasi bahan-bahan dan media yang digunakan hanya dengan menggunakan air kelapa, ekstrak kentang, ekstrak pisang, neurobion, vitamin B complek, saripati ayam , pupuk daun lengkap sehingga harga dapat jauh lebih murah.
3. Esha Flora melakukan modifikasi di dalam metode kultur jaringan sehingga dapat dilakukan di rumah tipe sangat sederhana, hal ini menunjukkan bahwa semua keterbatasan yang ada bukanlah penghalang untuk tetap dapat melaksanakan kultur jaringan.
4. Dengan pengalamannya Esha Flora sejak tahun 1996 sudah mampu melatih laboran yang dulunya memerlukan waktu 9 bulan saat ini hanya dalam waktu 3 bulan sudah dapat trampil melakukan kultur jaringan. Dan memberikan pengalaman dan juga dasar-dasar dan acuan dalam pengembangan kultur jaringan dengan memberikan ”pancing” kepada peserta pelatihan yang dibuat sedemikian rupa paket pelatihan tersebut hanya 4 hari walaupun peserta dengan background bukan bidang pertanian/ kultur jaringan maka ia dapat mengembangkan usaha kultur jaringan. Paket pelatihan ini sangat intensif dan padat dan 70 % adalah memprakekkan semua tahapan dalam kultur jaringan dan 30 % pembekalan dalam mengelola laboratorium kultur jaringan dan perencanaan bisnis.
5. Menyediakan berbagai macam jasa untuk dapat benar-benar membantu peserta untuk dapat mengembangkan usaha kultur jaringannya sampai mandiri.
6. Menyediakan berbagai macam peralatan dan bahan yang dapat di beli secara eceran sehingga tidak memberatkan pemula bisnis kultur jaringan.
7. Menyediakan wadah untuk saling disukusi dengan sesama alumni Esha Flora sehingga dapat saling share dan berbagai pengalaman.
8. Berusaha menyebarkan berbagai ilmu, teknik dan metode kultur jaringan yang aplikatif melalui dunia internet seperti: http://www.eshaflora.com/ , http://www.eshaflora.blogspot/ , facebook edhi Sandra (edhisms@gmail.com dan edhisms2@gmail.com ) ataupun komunikasi via sms, telpon (Bapak Ir. edhi Sandra MSi Hp. 08128213720. Ibu Ir. Hapsiati Hp. 081294962056 dan 0817154375), email (edhisms@gmail.com dan edhi_sandra@yahoo.co.id ).

Perhitungan Harga Bibit Kultur Jaringan
Secara singkat kami uraikan bahwa biaya produksi satu bibit hasil kultur jaringan sampai siap aklimatisasi adalah Rp. 1.500,- dan kalau sampai bibit siap tanam biaya menjadi Rp. 3.500. Disamping itu bibit tanaman hasil kultur jaringan di jual dengan harga Rp. 15.000 sampai Rp. 25.000. Dengan demikian ada peningkatan margin keuntungan kotor sebesar Rp. 15.000 – Rp. 3.500 = Rp. 11.500. Padahal order pengadaan bibit perkebunan berkisar antara ratusan sampai jutaan bibit.
Sebagai contoh:
1. bibit anggrek bulan Thailand dalam botol satu bibitnya harga Rp. 4.500 (harga importir jumlah ribuan bibit) setelah 3 bulan bibit di rawat menjadi anakan anggrek bulan harga menjadi Rp. 15.000. dirawat lagi sekitar 3 bulan menjadi anggrek remaja maka harga sudah menjadi Rp 45.000. Dan anggrek bulan dewasa siap berbunga harga sekitar Rp. 75.000 sementara anggrek bulan harga di pasaran untuk satu tanaman yang sedang berbunga kisaran Rp. 120.000. Padahal kalau kita sudah punya kultur jaringan tanaman anggreknya maka stok anggrek dalam botol tersebut tidak akan ada habisnya, dapat diperbanyak seterusnya, dengan catatan kita dapat melakukan seleksi dengan benar di dalam subkulturnya sehingga viabilitas dan kualitas bibit anggrek dapat tetap terjaga dengan baik.
2. Saat ini orang sedang ramai budidaya emas hijau, yaitu budidaya pohon. Budidaya pohon tidak memerlukan perhatian yang khusus dan tidak perlu intensif. Seseorang budidaya pohon berkisar dari sekian hektar sampai puluhan bahkan ratusan hektar (Hutan Tanaman Industri). Jenis tanaman yang biasa diminta pasar adalah: jati, sengon, jabon, Acasia mangium, eucalyptus dll. Bila harga bibit siap tanam sekitar Rp. 15.000 sedang satu hektar misal dengan jarak tanam (5 x 5) meter maka jumlah bibit pohon yang diperlukan adalah 400 bibit, bila misalnya ada 20 hektar maka diperlukan bibit 8.000 bibit x Rp. 15.000 = Rp. 120.000.000 padahal biaya produksi satu bibit hanya Rp. 3.500. Jadi biaya produksi: Rp. 3.500 x 8.000 = Rp. 28.000.000. Jadi margin keuntungan kotor Rp. 120.000.000 – Rp. 28.000.000 = Rp. 92.000.000.
3. Pada tanaman eksklusif eksotik maka harga bibit kultur jaringan bisa sangat melambung, padahal harga dasar untuk produksi satu bibit tetap sama yaitu Rp. 3.500.Contoh adalah lengkeng merah harga saat ini indukannya rata-rata 10 juta untuk yang tinggi satu meter bila dapat dikultur kan dan di tanam sampai siap tanam dengan ukuran sekitar 30 cm maka harga pasaran adalah 3 juta rupiah untuk satu bibit tanaman. Padahal masih banyak jenis-jenis tanaman eksotik komersial lainnya seperti: encelophartos horidus (keluarga tanaman purba, Sikas), tanaman bunga cempaka merah.

Mampukan Saya Melakukan Agribisnis berbasis Kultur Jaringan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka yang terutama sekali dan harus dimiliki oleh calon pengusaha agribisnis berbasis kultur jaringan adalah kesukaan terhadap tanaman, kemauan yang ulet dan menyukai usaha ini. Tahap selanjutnya adalah melakukan strategi sebagai berikut:
1. Menguasai teknologi kultur jaringan, untuk tahap awal adalah mengetahui kunci-kunci permasalahan dan titik kritis dalam kegiatan teknik kultur jaringan.
2. Melakukan pembatasan dan fokus pada satu kegiatan produksi (satu jenis tanaman terlebih dahulu sampai menghasilkan)
3. Mengutamakan pada kegiatan-kegiatan yang mudah dan membelakangkan bagian yang sulit. Misalnya jagan terlalu focus pada inisiasi pada tahap awal tapi langsung pada proses produksi kultur jaringan.
4. Melakukan percepatan produksi dengan membeli bahan kultur steril dalam jumlah cukup besar untuk mempercepat waktu multiplikasi untuk mencapai jumlah target yang diinginkan.
5. Melakukan efisiensi-efisiensi dan efektifitas dalam produksi agar biaya produksi menjadi lebih rendah.
6. Melakukan antisipasi dan kontrol yang kuat dan mengantisipasi semua faktor kegagalan sehingga bisa menekan persentase kegagalan.
7. Melakukan kontrol terhadap jaminan kualitas bibit yang dihasilkan dengan mengontrol terlaksananya SOP budidaya dengan baik
8. Mempekerjakan pekerja yang kompeten di bidangnya bisa mengambil sarjana kultur jaringan atau SMK yang mendapat materi kultur jaringan, dan itupun tetap harus di upgrade pengetahuan dan keterampilannya untuk dapat benar-benar mampu berproduksi dengan baik.
9. Membuat SOP dan tatatertib yang dapat menjamin kinerja yang tinggi dan sistem produksi yang kondusif.
10. Perawatan laboratorium yang baik terkait menjaga tingkat steril dalam laboratorium kultur jaringan dan menerapkan perlakuan-perlakuan yang dapat mengurangi mikroba sehingga laboratorium kultur jaringan dapat tetap steril sepanjang waktu.

Peluang Pasar Dan Penentuan Jenis Yang akan Dikulturkan
Untuk dapat mengetahui peluang pasar dan jenis yang akan dikembangkan secara kultur jaringan, maka calon pengusaha agribisnis dapat mencari peluang melalui internet atau berdiskusi dengan berbagai pihak (usahakan harus banyak pihak untuk mendapatkan informasi yang objektif). Dianalisa secara pribadi dengan memperhatikan keterbatasan dan kelebihan yang anda miliki serta mana yang paling anda dan keluarga sukai dan paling memungkinkan untuk dilaksanakan. Selanjutnya ada baiknya anda terjun secara langsung untuk aktif dikomunitas jenis tersebut untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas, mencari peluang pasar, meneliti jaringan pemasaran, membangun kemitraan, mencoba mendapatkan order (bila laboratorium kultur jaringan anda sudah siap produksi).


Konsekuensi Bisnis
1. Semakin sulit suatu bisnis maka sebenanya akan semakin sedikit pula para pelaku bisnis yang dapat melakukannya. Dan bila kita tetap tekun konsisten, tidak mudah putus asa maka secara tidak sadar maka kita sebenarnya sudah melangkah jauh.
2. Hasil yang kita dapatkan pasti berhubungan dengan usaha dan modal yang dikeluarkan. Jadi jangan berfikiran bahwa dengan modal yang kecil dapat menghasilkan hasil yang sangat berlimpah. Ibaratnya bila kita ingin memancing ikan besar di laut maka kita jangan menggunakan pancing tradisional yang hanya untuk memancing di sungai kecil. Semakin besar usaha anda maka akan semakin besar alokasi waktu, tenaga dan dana yang tercurahkan ke bisnis tersebut. Bila alokasi tenaga dan perhatian kita kecil maka kita dapat melimpahkan pada tenaga kerja yang dapat dipercaya atau dengan kontrol yang kuat. Bila itu akan dilakukan sendiri maka bila kita tidak menyukainya maka hal ini akan menjadi beban untuk kita sendiri, jadi menyukai dan mencintai usaha ini adalah wajib.
3. Janganlah mengambil keputusan tergesa-gesa bahwa usaha ini tidak menguntungkan atau tidak cocok untuk anda karena suatu masalah yang sebenarnya sangat sederhana, tapi karena di fikirkan dan dirasakan sendiri padahal ia tidak mempunyai solusi maka dengan cepat dia memutuskan batal atau bubar. Padahal permasalahan tersebut masih bisa diatasi dengan baik.
4. Bila di dalam perjalanan bisnis mengalami “musim paceklik”, “musaim kemarau” (tidak ada order) maka sebenarnya itu merupakan ritme tahunan juga tergantung pada usaha pemasaran yang kita lakukan. Jadi usahakan bertahan minimal sampai 3 tahun Bila anda mampu bertahan selama 3 tahun berarti anda mampu mengatasi “musim hujan” (banyak order) dan “musim kemarau” (sedikit order) dengan baik.

Strategi Agribisnis Berbasis Kultur jaringan Agar Dapat Esksis
Agar agribisnis berbasis kultur jaringan yang kita rintis kuat maka sebaiknya kita membuat atau membangun 4 komponen usaha yaitu:
1. Laboratorium Kultur Jaringan
2. Rumah kaca dan Nursery pembibitan dan pembesaran
3. Showroom dan Toko Penjualan Produk dan Jasa
4. Kantor dan Sekretariat.
Dengan adanya ketiga komponen tersebut akan dapat saling mengisi saling mengefisienkan dan membuat usaha menjadi lebih kuat daya tahannya.

Penutup
Bahwa segala sesuatu cita-cita memerlukan usaha untuk mendapatkannya. Bagaimana mengusahakannya dengan hati yang ikhlas, dan menjalankan dengan niat ibadah dan beramal tetap dengan mempriporitaskan bisnis sebagai prioritas utama untuk menjaga keseimbangan modal dan keuntungan. Insya Allah tidak ada yang sia-sia, karena proses tersebut sebenarnya sudah merupakan hasil yang sangat baik untuk kita dan sekitarnya, ditambah dengan suksesnya usaha merupakan bonus yang perlu kita syukuri dan itu akan memperkuat Iman dan Takwa kita pada Allah SWT. Aamiin.


Bogor, 19 Oktober 2015
Edhi sandra

You Might Also Like

0 comments