TRANSFER TEKNOLOGI KULTUR JARINGAN ESHA FLORA

By 3:26 PM



Kultur Jaringan 

Untuk Perusahaan maupun Perorangan Oleh Ir. Edhi Sandra MSi & Ir. Hapsiati


Latar Belakang

            Prospek pengembangan Kultur Jaringan di Indonesia sangat baik. Indonesia membutuhkan bibit-bibit yang berkualitas dan unggul di berbagai macam sektor, seperti pertanian, perkebunan dan kehutanan, belum lagi untuk kepentingan tanaman hias dan koleksi tanaman eksotik dan langka.
            Setelah sekian lama memberikan pelatihan kultur jaringan (dengan jumlah peserta pelatihan yang lebih dari seribu orang  yang di adakan di Esha Flora maupun  di IPB) hanya sekitar 30 % yang tetap eksis dalam mengembangkan kultur jaringan. Kelompok yang eksis ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu: 1). peserta yang memang sudah bekerja di bidang kultur jaringan di perusahaan negeri, perguruan tinggi maupun swasta sekitar 20 %,  dan  2). Peserta perorangan atau utusan perusahaan swasta yang baru mau mengembangkan bisnis kultur jaringan sekitar 10%.
            Sedangkan yang 70% tidak dapat eksis dalam bidang kultur jaringan karena beberapa faktor yang dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Permasalahan Non Teknis:
1.1.    Ketidakadaan waktu atau dana, atau tempat
1.2.    Ketidakadaan tenaga ahli dan trampil dalam kultur jaringan
1.3.    Permasalahan manajemen pegawai
1.4.    Permasalahan pasar

  1. Permasalahan Teknis:
2.1.    Permasalahan teknis kultur jaringan
2.2.    Permasalahan kontaminasi dan antisipasinya.
2.3.    Permasalahan ramuan dan komposisi media untuk tujuan tertentu
2.4.    Permasalahan manajemen pengelolaan teknis lab kuljar.
2.5.    Permasalahan kemampuan perencanaan produksi dan pencapaian target.

Setelah kami analisa ternyata permasalahan mulai muncul pada saat para peserta tersebut mulai secara real melaksanakan kegiatan kultur jaringan. Banyak kegiatan teknis sederhana tapi ternyata sangat menentukan kelancaran dan kesuksesan dalam pelaksanaan kultur jaringan tersebut.  Dan permasalahan tersebut terjadi selama awal pelaksanaan pengelolaan lab kultur jaringan.
Permasalahan akan bertambah besar dan membuat stress berat para pengelola lab kuljar, setelah dihadapkan pada program produksi yang tinggi dan pencapaian target produksi yang sangat sempit waktunya, bila dalam hal ini mereka belum ada pengalaman maka ditambah dengan adanya kendala teknis maka pengelolaan lab kuljar akan menjadi kacau. Dan gagal dalam mencapai tukjuan yang diinginkan.

Oleh sebab itulah maka Esha Flora berusaha membantu semua pihak yang berusaha membuka usaha kultur jaringan dengan membantu mengatasi semua permasalahan tersebut dan mendampingi selama proses awal pelaksanaan pengelolaan laboratorium kultur jaringan tersebut. Program tersebut dapat berlangsung selama 6 bulan sampai satu tahun dan bisa lebih bila di perlukan.


Transfer Teknologi Kultur Jaringan Esha Flora

Adapun Paket Program Transfer Teknologi Kultur Jaringan ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
  1. Konsultasi perencanaan bisnis & pembuatan laboratorium kultur jaringan.
  2. Pengadaan paket alat dan bahan kultur jaringan dengan skala tertentu seperti paket alat bahan dengan kapasitas 1000 kultur, 10.000 kultur, 100.000 kultur dan 1 juta kultur.
  3. Jasa inisiasi kultur jaringan tanaman yang diinginkan.
  4. Paket pelatihan kultur jaringan
  5. Paket magang kultur jaringan
  6. Pendampingan start awal pengelolaan laboratorium kultur jaringan
  7. Supervisi dan evaluasi setiap tahapan kultur jaringan.
  8. Jasa perencanaan strategi bisnis kultur jaringan
  9. Jasa perencanaan dan target produksi kultur jaringan

Komponen program dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangnya. Intinya adalah kami berusaha mengatasi semua permasalahan di dalam merintis usaha kultur jaringan.
Setiap komponen program merupakan jawaban dari permasalahan yang seringkali ditemui para perintis usaha kultur jaringan secara garis besarnya permasalahan di bagi menjadi 2 kelompok. Yaitu :
1.  Permasalahan teknis dan manajemen laboratorium kultur jaringan.
2.  Permasalahan pasar dan strategi usaha kultur jaringan.
      Situasi dan kondisi laboratorium kultur jaringan berbeda-beda, hal ini disebabkan keterbatasan dari para pelaku usaha kultur jaringan juga berbeda-beda, demikian pula dengan tenaga pelaksananya juga mempunyai pengetahuan dan  pemahaman yang berbeda-beda.
      Seringkali para pelaku kultur jaringan dalam merintis usaha kultur jaringan dengan cara mencontoh atau mengikuti dari laboratorium kultur jaringan yang ada. Akan tetapi mereka tidak mampu memodifikasi dan menyesuaikannya dengan kondisi dan siatuasi yang cocok di lingkungannya. Bahkan seringkali mereka salah di dalam menarik kesimpulan dan mengambil prinsip yang harus dipegangnya dalam pelaksanaan usaha kultur jaringan tersebut.


Permasalahan Teknis dan Manajemen Laboratorium Kultur Jaringan.

            Bagi perusahaan atau perorangan yang baru merintis usaha kultur jaringan, maka sebenarnya dia harus menyusun satu-persatu pelaksanaan teknis dari setiap tahapan dan proses kulur jaringan.  Bila dalam hal ini si pelaksana belum mempunyai pengalaman, maka dia akan terantuk-antuk dalam setiap pelaksanaan teknis tersebut.

Permasalahan Teknis           
Bagi orang umum, maka kultur jaringan terlihat sangat detail dan rumit. Tapi bagi sarjana kultur jaringan yang sudah mempelajari kultur jaringan maka terlihat mudah. Akan tetapi sebenarnya tidak demikian karena pada saat sarjana kultur jaringan tersebut terjun di laboratorium kultur jaringan, maka variasi yang ada sangat besar berkaitan dengan faktor keterbatasan, sitruasi dan kondisi serta variasi tanaman yang akan dikembangkan sangat beranekaragam. Ditambah lagi dengan keterbatasan waktu, biaya, tenaga, kapasitas alat,  terbatasnya bahan dikaitkan dengan target dan skala produksi.  Kesemua faktor tersebut bercampur aduk menjadi sebuah permasalahan besar yang cukup sulit untuk diurai dan dipecahkan.  Kalau sarjana kultur jaringan tersebut tidak mempunyai pengalaman maka akan membuat permasalahan tersebut akan terakumulasi dan semakin besar.

Permasalahan manajemen
            Suksesnya usaha kultur jaringan tidak hanya ditentukan dengan mahalnya investasi yang sudah dikeluarkan. Bukan tergantung pada mahalnya peralatan dan gedung laboratorium kultur jaringan.  Tapi lebih ditentukan pada terlaksananya prinsip-prinsip dasar di dalam kultur jaringan.
            Laboratorium kultur jaringan yang baik tidak hanya ditentukan oleh tertutup rapatnya (terisolasi) laboratorium kultur jaringan tersebut, juga bukan pada dinginnya AC atau terangnya lampu. Tapi juga sangat ditentukan pada pengelolaan laboratorium kultur jaringan tersebut.


Permasalahan Pasar dan Strategi Usaha Kultur Jaringan
            Bagi para pemula yang baru mau merintis usaha kultur jaringan maka akan bermasalah dalam hal pasar.  Kecuali bila mereka membuka usaha kultur jaringan sebagai upaya pengembangan usaha yang sudah ada. Misalnya dalam rangka mengantisipasi kekurangan pengadaan bibit unggul.
            Bagi pengusaha kultur jaringan yang tidak mempunyai akses pasar yang sudah pasti, maka ia harus pandai membuat strategi agar biaya operasional laboratorium harus dapat tertutup oleh pemasukan yang ada. Untuk itu maka pengelola kultur jaringan harus mampu melakukan diversifikasi produk dan jasa yang dihasilkannya untuk memperkuat eksistensinya.
            Strategi tersebut tidak hanya diversifikasi produk dan jasa saja tapi juga merupakan kesatuan usaha yang saling sinergis dan sistematis mampu mengembangkan laboratorium secara bertahap, walau pada tahap awalnya dimulai dari investasi yang sangat terbatas.

Transfer Teknologi Esha Flora yang pernah dilakukan

            Esha Flora sampai saat ini sudah melakukan beberapa kali transfer teknologi kultur jaringan, diantaranya:
  1. Pengembangan laboratorium kultur jaringan peserta pelatihan Esha Flora
  2. Pengembangan laboratorium kultur jaringan anggrek di Bali
  3. Pengembangan laboratorium kultur jaringan tanaman hias di Depok
  4. Pengembangan laboratorium kultur jaringan di Perusahan pertambangan di NTT
  5. Pengembangan laboratorium kultur jaringan rami di Garut.

Penutup
            Bahwa dalam merealisasikan dan melaksanakan / mengelola laboratorium kultur jaringan, ibarat seorang nahkoda kapal laut yang sedang mengarungi lautan yang luas dengan ombak yang besar diseling dengan badai dan hujan deras.  Bila nakhkoda tersebut tidak terampil mengendalikan kapalnya maka kemungkinan besar akan tenggelam atau bila tidak kemungkinan iya akan tersesat di lautan luas
            Semoga tulisan ini bermanfaat untuk evaluasi besama, dan menjadi motivasi agar kita lebih professional dalam mengembangkan kultur jaringan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih


Bogor, 20 Desember 2010
Esha Flora
                       



 

You Might Also Like

0 comments