Jasa Inisiasi Kultur Jaringan Tanaman

By 2:46 PM





Oleh
Ir. Edhi Sandra MSi

Pendahuluan.
Kultur Jaringan - Jasa inisiasi tanaman merupakan pelayanan Esha Flora bagi masyarakat yang ingin mencoba mengkulturkan tanaman yang dimilikinya untuk dikulturkan. Kebanyakan dari para pengusaha atau pelaku agribisnis ingin agar mereka mampu mengkulturkan jenis tanaman yang diusahakannya dengan teknologi kultur jaringan. Pertanyaannya adalah apakah jenis tanaman yang akan mereka kulturkan memang dapat dikulturkan? Hal ini menjadi pertanyaan yang selalu muncul bagi para pemula yang mau terjun ke dalam agribisnis kultur jaringan. Pertanyaan berikutnya apakah saya (para pengusaha tersebut) mampu melakukan kultur jaringan. Kultur jaringan adalah high technology tidak sembarang orang dapat melakukan itu.Biaya besar dan hasilnya lama dan tidak jelas. Inilah persepsi yang terdapat dalam benak banyak orang yang ingin melakukan kultur jaringan. Mereka khawatir investasi yang sudah dikeluarkan akan sia-sia.

Esha Flora berusaha merubah persepsi negative tersebut, yaitu:

1. Bahwa secara prinsip semua jenis tumbuhan dapat dikulturkan. Tumbuhan memiliki sifat ‘Totipotensi’. Satu sel tumbuhan mengandung rangkaian gen yang cukup untuk menghasilkan tanaman sama seperti induknya. Memang di dalam pelaksanaannya masih banyak hambatannya, tapi bukan berarti ‘tidak bisa’, tapi mungkin kata yang tepat adalah ‘belum bisa’. Hal ini sudah beberapa kali kami buktikan pada beberapa jenis tumbuhan yang persepsi umum tidak dapat dikulturkan dan ternyata walau dengan bersusah payah akhirnya dapat kami kulturkan. Jenis tersebut adalah: 1. Aglaonema rotundum, kami sudah dapat mengkulturkan, walau pada awalnya ada persepsi bahwa aglaonema lokal tidak bisa dikulturkan. 2. Jenis pohon hutan tropis tidak bisa dikulturkan. Dan kami sudah dapat membuktikan dan sudah dapat mengkulturkan beberapa jenis pohon hutan tropis seperti: Pule (alstonia scularis), Jelutung (Dyera costulata), Pohon Labu, Pohon Gerunggang (Cratoxylon arborescens), Meranti batu (Shorea platyclados), Ulin (Eusideroxylon zwageri. Teysm. & Binnend), Ramin (Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz). 3. Jenis tumbuhan obat langka Pule pandak (Rouvolvia serpentine) saat ini sudah sangat sulit ditemukan di alam, untuk obat anti hipertensi sekaligus aprodisiak, 4. Tumbuhan obat langka Sanrego (Lunasia amara Blanko), untuk obat aprodiasiak (meningkatkan gairah seksual). 5. Tanaman air komersial Anubias. 6. Tanaman hias komersial, tanaman pemakan serangga Kantong Semar dan Venus flytrap.

2. Bahwa kultur jaringan bisa dilaksanakan dengan skala rumah tangga. Kami sudah membuktikan dengan membuat laboratorium kultur jaringan skala rumah tangga sejak tahun 1996 sampai sekarang, yaitu laboratorium kultur jaringan yang dilakukan di rumah sederhana denga menggunakan alat-alat dan bahan yang dimodifikasi sehingga tidak semahal yang dibayangkan orang. Sejak awal sampai sekarang banyak pembelajaran yang kami temui dan itu sangat penting dalam pengelolaan laboratorium kultur jaringan. Dan pembelajaran penting tersebut langsung kami bagikan dan ajarkan kesemua orang baik melalui pelatihan maupun dalam bentuk artikel seperti ini dengan berbagai media komunikasi. Dari sekian banyak peserta pelatihan (mungkin lebih dari 1000 peserta yang tersebar diseluruh Indonesia) mungkin hanya sekitar 20%b yang mampu untuk terus menjalankan laboratorium kutlur jaringannya. Dan dari 20% tersebut maka setengahnya adalah memang orang yang bekerja di laboratorium kultur jaringan di Dinas pertanian, perguruan tinggi, litbang, swasta yang memang sudah memiliki usaha dan ingin penguatan dalam pengadaan bibit. Dan setengahnya lagi memang benar-benar orang yang baru mulai merintis usaha agribisnis berdasarkan kultur jaringan,. Dan saya sangat salut pada beliau-beliau karena keuletan dan ketangguhannya dalam mengatasi permasalahan yang muncul.

3. Bahwa siapa saja dapat melakukan kultur jaringan. Anggapan bahwa kultur jaringan hanya dapat dilakukan oleh sarjana kultur jaringan adalah tidak tepat. Dan hal ini Esha Flora sudah membuktikan bahwa staf laboran Esha Flora adalah pegawai yang bukan sarjana dan dia mampu melakukan kultur jaringan lebih baik dari sarjaa. Bahkan Pegawai kami tersebut satu keluarga mampu melakukan kultur jaringan karena kerja di Esha Flora. Dan kemampuan kami untuk melatih mereka untuk dapat melakukan kultur jaringan sudah semakin cepat. Awalnya memerlukan waktu 9 bulan , kemudian turun menjadi 6 bulan dan saat ini cukup 3 bulan maka orang tersebut sudah dapat trampil melakukan kultur jaringan. Teknologi ini tidak kami tutup-tutupi tapi kami sebarkan pada siswa-siswa SMK Pertanian yang belajar di Esha Flora. Sudah banyak sekolah-sekolah SMK yang magang di Esha Flora. Termasuk SMK Kehutanan bogor yang menjadikan kegiatan ekskulnya adalah kultur jaringan. Jadi diharapkan siswa tersebut benar-benar memiliki kompetensi kultur jaringan begitu sudah lulus sekolah.

Walaupun sudah banyak penjelasan sudah kami sampaikan untuk merubah persepsi, tapi tetap kehati-hatian seorang pengusaha dalam berinvestasi membuat mereka ingin mengetahui terlebih dahulu secara yakin bahwa tanaman yang mau mereka kembangkan dapat dikulturkan. Oleh sebab itulah maka mereka menanyakan apakah Esha Flora mau melakukan inisiasi untuk mereka, bila berhasil baru mereka mau melakukan dan mengembangkan kultur jaringan.

Kami membagi Permasalahan Teknis Kultur Jaringan menurut Esha Flora ada 4 masalah yaitu:
1. Kontaminasi
2. Browning
3. Viabilitas
4. Aklimatisasi.

Dan kontaminasi merupakan permasalahan yang paling awal dan paling kritis saat inisiasi. Dan keberhasilan inisiasi (memasukkan bahan tanaman yang akan dikulturkan yang berasal dari tanaman di luar/ apalagi kalau berasal dari tumbuhan liar atau dari hutan) hanya 0 – 10% jadi lebih seringkali gagal. Tapi dengan tambahan perlakuan-perlakuan yang kami buat maka peluang inisiasi sangat dimungkinkan hanya perlu waktu dan biaya untuk melakukan hal tersebut. Perlakuan Sterilisasi Eksplan Untuk Inisiasi Teknik Esha Flora adalah:
1. Karantina Bahan indukan eksplan (karantina bisa mencapai 6 – 12 bulan bahkan seterusnya tergatung pengambilan eksplan)
2. Perendaman antibiotik atau PPM selama 2-3 hari dengan aerator steril dan antibiotik.
3. Penggunaan ozoniser untuk bahan eksplan yang mengandung browning yang tinggi.
4. Sterilisasi luar laminar
5. Sterilisasi dalam laminar
6. Pemberian antibiotik atau PPM ( 2 mg/l) dalam media kultur
7. Penyelamatan eksplan yang terkontaminasi sedini mungkin
8. Penyelamatan eksplan yang mengalami browning tinggi.

Jadi sebaiknya bahan indukan eksplan berupa individu dalam bentuk bibit yang dibuat dari indukan besarnya yang sudah jelas berkualitas, baik dengan cara di stek, di sambung atau dicangkok. Bahan tanaman bibit inilah yang kemudian di lakukan karantina. Tapi yang perlu di perhatikan bahwa definisi karantina yang kami maksudkan disini berbeda dengan karantina secara umum. Definisi karantina dalam hal ini adalah menyiapkan bahan indukan eksplan untuk siap diambil eksplannya dan berpeluang menghasilkan kultur yang steril. Oleh sebab itulah maka Perlakuan Karantina Teknik Esha Flora ada beberapa perlakuan yaitu:
1. Perlakuan mengeliminir mikroba di dalam tanaman dengan pemberian antibiotic secara intensif terus menerus. Antibiotik dapat dibuat sendiri dengan menggabungkan beberapa antibiotic agarmenghasilkan spectrum yang luas, yang dapat membunuh semua mikroba baik fungi maupun bakteri gram positif maupun gram negative. Yaitu: Amoxilline, Streptomycine dan kloramfenicole masing-masing 50 mg dalam 100 ml air. Atau menggunakan produk yang sudah jadi yaitu PPM (Plant Preservatif Mixture)
2. Perlakuan hormon tunas dalam konsentrasi tinggi (kombinasi hormone yang digunakan bisa berupa: BAP 8 mg/l, TDZ 2 mg/l, NAA 2 mg/l dan GA3 0,5 mg/l) agar menghasilkan tunas-tunas yang banyak sehingga di dapat eksplan yang lebih banyak.
3. Perlakuan perawatan standar agar tanaman tetap sehat walau diambil bagian tunasnya dengan memberikan makanan yang lengkap dan bergizi meliputi: unsur hara (media Murashige and Skoog atau pupuk daun lengkap yang ada dipasaran), sumber energi (gula 30 g/liter atau madu 2 ml/liter), vitamin (neuroboin atau vitamin B complex sebanyak 1 pil untuk 3 liter), asam amino (spirulina 1ml/l, atau protein untuk pakan ikan 1 gr/liter atau brand saripati ayam 2 ml/liter), hormon dan bahan organik (2 ml/l).
4. Eksplan yang diambil adalah dua titik tumbuh dari ujung, tapi dalam pengambilannya harus menyisakan 2-3 mata di bawahnya untuk setiap tunas baru sehingga diharapkan bahan eksplan tidak akan semakin habis tapi semakin banyak karena titikl tumbuh yang kita biarkan akan menumbuhkan tunas-tunas baru lagi dan jumlahnya akan semakin banyak. Kenapa harus 2 titik tumbuh dari ujung, karena dengan perlakuan hormone dan pemupukan yang subur sistem Esha Flora maka dua titik tumbuh tersebut kemungkinan tumbuh tidak lebih dari seminggu. Dan diharapkan sel-sel yang baru tumbuh tersebut belum terinvasi oleh mikroba bahkan virus.
Jadi walaupun di dalam kultur jaringan tanaman dapat dibuat dari satu sel saja, tapi realnya dalam pelaksanaannya diperlukan banyak bahan indukan eksplan untuk diberi perlakuan karantina, hal ini diperlukan untuk mendapatkan jumlah eksplan steril dalam jumlah yang lebih banyak, yang pada akhirnya berdampak pada lebih cepatnya multiplikasi yang akan didapatkan.

Kenyataannya banyak pihak yang berusaha spekulasi dengan membawa bahan eskplan berupa potongan bagian tanaman untuk dapat dikulturkan. Dan kami perlu menjelaskan bahwa peluang keberhasilan rendah dan itupun memerlukan biaya untuk melalukannya. Bagi Esha Flora juga tidak mencari untung, sepanjang pihak tersebut mau mendanai percobaannya maka kami akan lakukan baru setelah berhasil dibicarakan tahapan selanjutnya.

Oleh sebab itulah Jasa inisiasi dibagi menjadi beberapa kelompok tergantung pada lamanya waktu ujicoba dan biaya yang diperlukan. Yaitu:
1. Inisiasi Ujicoba langsung. Biaya Rp. 500.000 adalah untuk mencobakan secara langsung bahan eksplan yang diberikan oleh pihak tertentu pada Esha Flora untuk diujicobakan inisiasinya dan tidak ada jaminan akan berhasil.
2. Inisasi Ujicoba dengan karantina selama 3 bulan untuk satu tanaman, biaya 10 juta Bahan eksplan berupa bahan indukan eksplan yang disediakan oleh phak tersebut sebanyak 30 tanaman.
3. Inisiasi Ujicoba dengan karantina selama 6 bulan untuk satu tanaman, biaya 25 juta. Jumlah bahan indukan eksplan yang harus disiapkan sejumlah 75 tanaman.
4. Inisiasi Ujicoba dengan karantina selama 1 tahun untuk satu tanaman, biaya 50 juta. Jumlah bahan indukan eksplan sebanyak 200 bibit.

Semakin lama waktu yang disediakan untuk ujicoba maka akan semakin besar peluang untuk berhasilnya. Untuk saat ini Esha Flora sedang melakukan kerjasama ujicoba inisiasi 5 jenis pohon hutan tropika dengan suatu perusahaan di Kalimantan. Dan saat ini sudah berjalan sekitar 9 bulan dan Alhamdulillah sudah 4 jenis tanaman yang sudah didapatkan kultur sterilnya, tinggal sagu yang belum berhasil mendapatkan kultur sterilnya. Jenis tanaman tersebut adalah: Pohon Gerunggang, Pohon Ramin, Pohon Meranti batu, pohon Ulin dan Sagu. Kemudian perusahaan tersebut yang juga diversifikasi usaha mengirimkan bibit lengkeng Itoh untuk dikulturkan juga, dan saat ini sedang dilaksanakan penelitiannya.

You Might Also Like

0 comments